Emas (XAU/USD) mencatat kenaikan intraday yang solid pada sesi awal Eropa hari Rabu, mendekati level tertinggi semalam dan bergerak menuju area sekitar $4.540 dalam satu jam terakhir. Meredanya sebagian eskalasi konflik antara Hezbollah dan Israel telah mengurangi kekhawatiran akan konfrontasi regional yang lebih luas, sehingga melemahkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven dan mendukung kenaikan harga logam mulia. Pada saat yang sama, ketidakpastian yang berkelanjutan seputar negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, bersama dengan risiko inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut, dapat membatasi tekanan penurunan terhadap dolar, sehingga menahan potensi kenaikan lanjutan pada emas.

Pada hari Senin, Presiden AS Donald Trump mengumumkan di media sosial bahwa Israel telah setuju menarik pasukan yang sebelumnya bersiap melakukan operasi di Beirut dan wilayah sekitarnya yang berada di bawah kendali Hezbollah. Selain itu, melalui perantara, Trump menjalin kontak dengan kelompok Lebanon Hezbollah yang didukung Iran dan menerima jaminan bahwa kelompok tersebut akan menahan diri dari serangan terhadap Israel. De-eskalasi terbatas ini telah mengurangi dukungan terhadap penguatan dolar AS yang terjadi sebelumnya. Namun, pernyataan yang saling bertentangan terkait kemajuan negosiasi AS–Iran yang bertujuan mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama tiga bulan masih menopang permintaan terhadap emas. Iran memperingatkan bahwa mereka dapat menghentikan negosiasi menyusul serangan-serangan baru dan aktivitas militer Israel di Lebanon. Di saat yang sama, Trump menyatakan bahwa dialog masih berlangsung dan membuka kemungkinan tercapainya kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata serta membuka kembali Selat Hormuz paling cepat pada minggu depan.
Para investor tetap berhati-hati dan memilih menunggu sinyal yang lebih jelas mengenai kemajuan dalam negosiasi AS–Iran. Sementara itu, ekspektasi bahwa kenaikan harga energi dapat memaksa bank sentral utama, termasuk Federal Reserve, untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat membatasi potensi kenaikan harga emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding).
Hari ini, para trader mungkin memilih menunggu rilis data US Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) pada sesi Amerika Utara, karena data tersebut dapat memberikan arah pasar dalam jangka pendek. Meski demikian, peristiwa utama pekan ini tetaplah laporan US Nonfarm Payrolls (NFP), yang berpotensi memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja dolar AS.
Selain itu, perkembangan lanjutan di Timur Tengah dapat meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global dan menciptakan peluang trading baru untuk emas. Secara keseluruhan, kondisi fundamental masih bercampur. Berdasarkan data terbaru, dolar AS terus menguat terhadap mata uang utama, khususnya terhadap yen Jepang.

Dari perspektif teknikal, emas masih bergerak dalam kanal paralel menurun dan sedang berupaya menembus ke atas EMA 14 hari EMA. Namun, kubu bullish masih menghadapi dua hambatan tambahan sebelum dapat mengendalikan pasar: SMA 20 hari dan SMA 50 hari. Selama oscillator tetap berada di wilayah negatif, momentum bullish kemungkinan akan tetap terbatas. Di saat yang sama, karena harga masih diperdagangkan di atas SMA 200 hari, masih terlalu dini untuk membahas potensi risiko penurunan jangka panjang yang signifikan.
TAUTAN CEPAT